search

Memuat...

Senin, 25 Juni 2012

MIKROBIOLOGI_PENGARUH BAHAN ANTIMIKROBA TERHADAP VIABILITAS BAKTERI

Laporan Praktikum ke-9                       Hari/ Tanggal     : Kamis/17 November 2011
m.k. Mikrobiologi Akuatik                    Kelompok/ Shift : 7/ 2
                                                            Asisten               : 1. Damayanti
                                                                                        2. Ghita Ryan Septiani





PENGARUH BAHAN ANTIMIKROBA TERHADAP VIABILITAS BAKTERI

Disusun oleh:
Dian Novita Sari
J3H110045


 


TEKNOLOGI PRODUKSI DAN MANAJEMEN PERIKANAN BUDIDAYA
DIREKTORAT DIPLOMA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2011

I.  PENDAHULUAN
I.I  Latar belakang
            Bakteri merupakan mikro uniseluler. Pada umumnya bakteri tidak mempunyai klorofil. Ada beberapa yang fotosintetik dan reproduksi aseksualnya secara pembelahan. Bakteri tersebar luas di alam, di dalam tanah, di atmosfer, di dalam endapan-endapan lumpur, di dalam lumpur laut, dalam air, pada sumber air panas, di daerah antartika, dalam tubuh manusia, hewan, dan tanaman. Jumlah bakteri tergantung pada keadaan sekitar. Misalnya, jumlah bakteri di dalam tanah tergantung jenis dan tingkat kesuburan tanah (Hidayat, et al., 2006).
Menurut Waluyo (2007), pengamatan bakteri dapat dilakukan secara individual, satu per satu, maupun secara kelompok dalam bentuk koloni. Bila bakteri yang ditumbuhkan di dalam medium yang tidak cair, maka akan terjadi suatu kelompok yang dinamakan koloni. Bentuk koloni berbeda-beda untuk setiap spesies, dan bentuk tersebut merupakan ciri khas bagi suatu spesies tertentu.
Aktivitas mikroorganisme dipengaruhi oleh lingkungan. Perubahan yang terjadi di dalam lingkungan dapat mengakibatkan perubahan sifat morfologi dan fisiologi mikroorganisme. Beberapa golongan sangat tahan terhadap perubahan lingkungan, sehingga cepat dapat menyesuaikan diri dengan kondisi baru. Ada pula golongan mikroorganisme yang sama sekali peka terhadap perubahan lingkungan sehingga tidak dapat menyesuaikan diri. Faktor lingkungan penting artinya dalam usaha mengendalikan kegiatan mikroorganisme, baik untuk kepentingan proses ataupun pengendalian (Suriawiria 2008).
Beberapa bahan kimia seperti senyawa fenol, alkohol, formalin, dan lain-lain diketahui dapat menghambat atau mematikan mikroorganisme. Berbagai substansi tersebut menunjukkan efek antimikrobialnya dalam berbagai cara dan terhadap berbagai mikrorganisme. Sifat ini digunakan untuk mengendalikan populasi bakteri atau untuk tujuan desinfeksi suatu alat. Antibiotik merupakan produk metabolit yang dihasilkan suatu mikroorganisme tertentu, yang dalam jumlah amat kecil bersifat merusak atau menghambat mikroorganisme lain. Dengan perkataan lain, antibiotik merupakan zat kimia yang dihasilkan oleh suatu mikroorganisme yang menghambat mikroorganisme lain. Cara kerja zat-zat kimia dalam menghambat atau mematikan mikroorganisme itu berbeda-beda, beberapa diantaranya adalah mendenaturasi protein, merusak membran, mengganggu sintesis protein, menghambat pembentukan dinding sel, dan lain-lain (Widanarni 2011).
1.2 Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah mengetahui pengaruh bahan kimia terhadap viabilitas bakteri serta mengetahui bahan kimia yang efektif dalam mengatasi pertumbuhan bakteri.
II.  METODE KERJA

2.1 Waktu dan Tempat
      Praktikum dilaksanakan pada hari Kamis, 10 November 2011, pukul 13.30-15.10 WIB, bertempat di Laboratorium CA BIO 2 dan pengamatan pada hari Jum’at, 11 November 2011, pukul 13.30-14.00 WIB, bertempat di Laboratorium Mikro, Cilibende, Institut Pertanian Bogor.

2.2 Alat dan Bahan
        Alat yang digunakan adalah 2 buah cawan petri, batang penyebar, korek api, bunsen, sprayer, mikropipet, tip, dan tisu. Bahan yang digunakan adalah sampel bakteri Aeromonas hydrophila dan Bacillus sp., alkohol 70%, formalin 10%, larutan fisiologis 0,85%, ekstrak meniran, larutan penicilin dan media PCA.

2.3 Prosedur Kerja
2.3.1    Penyebaran
Semua alat dan bahan disiapkan. Tangan operator dan meja kerja disterilkan dengan Alkohol 70% lalu dilap dengan tisu. Bunsen dinyalakan, tip dipasang ke mikro pipet dan volume sampel yang akan diambil yaitu 0,1 mL diatur pada mikro pipet. Selanjutnya sampel bakteri Aeromonas sp. pada oppendorf diambil dengan mikro pipet sebanyak 0,1 mL dengan cara menekan tombol ujung mikro pipet, tetapi tidak sampai full. Kemudian sekeliling tepi cawan petri yang berisi media PCA steril dipanaskan dan dibuka. Selanjutnya sampel bakteri pada mikro pipet dipindahkan ke cawan petri yang berisi media dengan cara menekan tombol pada ujung mikro pipet hingga full kemudian cawan petri ditutup dan sekelilingnya dipanaskan lagi. Setelah itu, batang penyebar dipanaskan dan bakteri pada cawan petri yang berisi sampel bakteri disebar dengan batang penyebar hingga merata. Kemudian cawan petri ditutup dan sekelilingnya dipanaskan lagi. Pada penyebaran bakteri Bacillus sp., prosedurnya sama dengan penyebaran bakteri Aeromonas hydrophila. Selanjutnya media yang berisi sampel bakteri disimpan selama ± 24 jam untuk diteliti dan dihitung.

III.             HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1       Hasil
Tabel 1. Hasil pengamatan pengaruh bahan antimikroba terhadap viabilitas bakteri. 
No.         Bahan aktif

                                  Diameter zona bening
      Aeromonas sp.      Zona bening        Bacillus sp.      Zona 
                                                                                   bening
1              Formalin 10%                        -                                          2,8 cm                  
2              Alkohol 70%                      0,85 cm                                   0,75 cm                 
3              Penisillin                             2 cm                                       2,1 cm                     
4              Meniran                             1,3 cm                                     0,9 cm                     
5              Larutan fisiologis 0,85%      1 cm                                           -                         x
Ket:
√ = ada zona bening.
X= tidak ada zona bening.
- = tidak ada zona bening/ ada zona bening tetapi diameternya tidak diketahui.

3.2 Pembahasan 
Bacillus merupakan bakteri Gram positif berbentuk batang, yang tersebar secara luas di berbagai negara (Hilman 2007). Bakteri Bacillus sp. termasuk dalam marga Bacillus, yang bersifat aerob, tetapi beberapa spesies bersifat anaerob fakultatif. Aeromonas hydrophila merupakan bakteri bersifat Gram negatif, berbentuk batang, dan motil. Merupakan agensia penyebab hemoragik septikemia atau MAS ( Motile Aeromonas Seticemia) pada beragam spesies ikan air tawar (Waluyo 2007).
Formalin merupakan suatu larutan formaldehid 40% yang merupakan desinfektan yang banyak sekali digunakan untuk membunuh bakteri, virus, dan jamur. Formalin tidak biasa digunakan untuk jaringan tubuh manusia, kecuali untuk menyimpan kadaver. Formalin banyak dipergunakan untuk merendam bahan-bahan laboratorium, alat-alat seperti gunting, sisir, dan lain-lainnya pada para ahli kecantikan (Waluyo 2007). Dari hasil pengamatan diperoleh hasil bahwa bahan antimikroba yang memiliki zona bening terluas adalah formalin 70% baik itu pada bakteri Aeromonas hydriphila maupun Bacillus sp.. Luas zona bening formalin pada A. hydrophila tidak dapat diukur karena zona yang terbentuk terlalu besar dan keluar dari diagram untuk zona formalin sehingga zona beningnya terpotong oleh tepian cawan yang berbentuk lingkaran.
Penisilin merupakan antibiotika yang dihasilkan oleh jamur Penicillium  yang ditemukan oleh A. Fleming pada tahun 1929. Penisilin bekerja dengan mempengaruhi dinding sel bakteri. Mekanisme kerja penisilin menggangu pembentukan dinding sel terutama pada tahap terakhir. Penggunaan penisilin ini dapat menyebabkan terbentuknya sferoplas, yakni bakteri tanpa dinding sel atau bakteri bentuk L (Waluyo 2007). Berdasarkan hasil pengamatan zona bening terluas setelah formalin adalah penisilin. Luas zona bening penisilin lebih besar pada bakteri Bacillus sp. dibandingkan dengan bakteri A. hydrophila. Hal ini menunjukkan bahwa bakteri A. hydrophila lebih tahan terhadap antibiotik penisilin dibandingkan dengan bakteri Bacillus sp. A. hydrophila lebih tahan terhadap penisilin karena antimikroba tersebut merupakan antimikroba pertama yang ditemukan sehingga sering digunakan untuk mengobati penyakit yang disebabkan oleh A. hydrophila yang menyebabkan bakteri tersebut menjadi lebih resisten terhadap penisilin.
Meniran merupakan bahan fitofarmaka yang dapat digunakan dalam berbagai hal yaitu sebagai penurun  kadar gula, anti bakteri, diuretik, anti diare (Kardinan A, Kusuma FR 2007). Meniran herbal banyak mengandung bahan kimia seperti lignan yang terdiri dari phylanthine, hypophyllanthin, phyltetralin, lintretalin, nirathin, nitretalin, nirphylline, nirurin, dan nirurisida. Terpen terdiri dari cymene, limonene, lupeol, dan lupeol acetat. Flavonoid terdiri dari quercitrin, isoquercitrin, astragalin, rutine, dan physetinglucosida. Falvonoid pada meniran banyak ditemukan pada bagian akar dan daun ( Suprapto 2006 dalam Ayuningtyas 2008). Lipid terdiri dari ricinoleic acid, dotriancontanoic acid, linoleic acid, dan linolenic acid. Benzenoid berupa methylsalicilat. Dari kelompok alkaloid ditemukan securinine, norsecurinine dan phylanthoside. Sedangkan dari kelompok steroid ditemukan senyawa estradiol dan sitosterol (Kardinan A, Kusuma FR 2007). Kandungan flavonoid yang terdapat pada meniran berfungsi sebagai antibakteri dan antioksidan serta mampu meningkatkan kerja sistem imun karena leukosit sebagai pemakan antigen lebih cepat dihasilkan dan sistem lifoid lebih cepat. Kandungan alkaloid pada meniran bersifat toksik terhadap mikroba, sehingga efektif membunuh bakteri dan virus. Alkaloid berfungsi sebagai antibakteri  yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri gram positif dan bakteri gram negatif (Naim 2004 dalam Sholikhah 2009). Saponin yang terdapat dalam meniran juga bertindak sebagai antibakteri karena memiliki kemampuan dalam menghambat fungsi membran sel sehingga merusak permeabilitas membran yang mengakibatkan dinding sel rusak atau hancur. Berdasarkan hasil pengamatan, ekstrak meniran memiliki zona bening yang cukup luas. Zona bening ekstrak meniran terhadap A. hydrophila lebih besar dibandingkan pada bakteri Bacillus sp.. Hal ini menunjukkan bahwa bakteri Bacillus sp. lebih tahan terhadap antibiotik yang berasal dari ekstrak meniran karena bakteri Bacillus sp merupakan bakteri gram positif yang memiliki dinding sel yang banyak mengandung peptidoglikan sehingga bahan aktif saponin dalam ekstrak meniran tidak terlalu mampu untuk merusak permeabilitas membran dinding sel bakteri tersebut. Luas zona bening antara bakteri A. hydrophila dan Bacillus sp. Tidak terlalu berbeda jauh, hal ini disebabkan karena spektrum meniran yang luas akibat kandungan alkaloid dalam meniran yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri Gram positif dan negatif.
Alkohol merupakan zat yang paling efektif dan dapat diandalkan untuk sterilisasi dan disinfeksi. Alkohol mendenaturasi protein dengan jalan dehidrasi, dan juga merupakan pelarut lemak. Oleh karena itu, membran sel-sel akan rusak, dan enzim-enzim akan diinaktifkan oleh alkohol. Alkohol 50-70% banyak digunakan sebagai disinfektan. Ada 3 jenis alkohol yang dipergunakan sebagai desinfektan adalah metanol (CH3OH), etanol (CH­3CH2OH), dan isopropanol ((CH3)2CHOH). Menurut ketentuan, semakin tinggi berat molekulnya, semakin meningkat pula daya desinfektannya. Konsentrasi di atas 90% atau di bawah 50% biasanya kurang efektif kecuali untuk isopropyl alkohol yang masih tetap efektif sampai konsentrasi 99%. Waktu yang diperlukan untuk membunuh sel-sel vegetatif cukup 10 menit, tetapi untuk spora tidak (Waluyo 2007). Berdasarkan hasil pengamatan menunjukkan bahwa luas zona bening alkohol 70% lebih luas pada bakteri A. hydrophila dibandingkan pada bakteri Bacillus sp.. Hal ini menunjukkan bahwa alkohol 70% lebih efektif digunakan pada bakteri A. hydrophila  dibandingkan pada bakteri Bacillus sp. karena bakteri A. hydrophila   merupakan bakteri Gram negatif yang memiliki dinding sel yang banyak mengandung lipid sehingga menjadi tercuci saat diberi alcohol yang menyebabkan dinding sel bakteri menjadi rusak dan pertumbuhannya menjadi terhambat.
Larutan fisiologis merupakan larutan isotonik yang terbuat dari NaCl 0.9% yang sama dengan cairan tubuh atau darah (Adil, 2009). Pada praktikum kali ini larutan fisiologis digunakan sebagai kontrol karena mengandung unsur elektrolit yang dapat mempertahankan tekanan osmotik dan isotonis media dengan cairan intrasel bakteri sehingga tidak akan mempengaruhi viabilitas bakteri. Pada hasil pengamatan diperoleh hasil bahwa larutan fisiologis memiliki zona bening pada media yang disebar dengan bakteri A. hydrophila sedangkan pada bakteri Bacillus sp. tidak menghasilkan zona bening. Seharusnya larutan fisiologis tidak menghasilkan zona bening karena larutan fisiologis tidak memiliki efek antimikroba tetapi berfungsi sebagai penyeimbang tekanan osmotik bagi bakteri. Zona bening yang dihasilkan disebabkan karena kesalahan prosedur yang dilakukan oleh praktikan. Kesalahan tersebut terjadi saat praktikan meletakkan kertas cakram yang telah dicelupkan ke larutan fisiologis ke media. Hal ini juga disebabkan oleh banyaknya kandungan larutan fisiologis yang terserap pada kertas cakram sehingga saat diletakkan ke media, larutan fisiologis pada kertas cakram meluber di sekitar kertas cakram.
IV.       KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
            Hasil praktikum menujukkan bahwa zona bening terluas disebabkan oleh formalin 10%. Hal ini menunjukkan bahwa dari beberapa bahan antimikroba yang digunakan, formalin 10% merupakan bahan aktif yang paling mempengaruhi viabilitas bakteri dan formalin 10% juga merupakan bahan antimikroba yang terbaik untuk digunakan dalam mengatasi bakteri. Selain formalin 10%, Penisilin, meniran dan alkohol 70% pun bisa digunakan sebagai antimikroba tetapi efeknya tidak sebagus formalin 10%.
4.2 Saran
Untuk praktikum berikutnya diharapkan agar bahan aktif dan bakteri yang digunakan lebih bervariasi lagi sehingga praktikan bisa memiliki bahan perbandingan dalam menganalisa pengaruh bahan antimikroba terhadap viabilitas bakteri.

DAFTAR PUSTAKA
  1. Adil. 2009. Darah dan sistem resirkulasi. Laboratorium Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Institut Pertanian Bogor.
  2. Ayuningtyas A. K. 2009. Efektifitas campuran meniran (Phyllanthus niruri) dan bawang putih (Alium sativum) untuk pengendalian infeksi bakteri Aeromonas hydrophila pada ikan lele dumbo (Clarias sp.). [Skripsi]. Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
  3. Hidayat, Nur. Masdiana C. Padaga, Sri Suhartini. 2006. Mikrobiologi Industri. Yogyakarta: Andi Offset.
  4. Hilman, Anton. 2007. Pestisida hayati dengan bakteri Bacillus Thuringiensis. http://www.hilman.web.id.
  5. Kardinan A, Kusuma FR. 2007. Meniran Penambah Daya Tahan Tubuh Alami. Yogyakarta: Kanisius.
  6. Sholikhah E.H. 2009. Efektivitas campuran meniran (Phyllanthus niruri) dan bawang putih (Alium sativum) dalam pakan untuk pengendalian infeksi bakteri (Aeromonas hydrophila) pada ikan lele dumbo (Clarias sp.). [Skripsi]. Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
  7. Waluyo, Lud. 2007. Mikrobiolgi Umum. Malang: UMM Press.
  8. Widanarni. 2011. Modul Praktikum Mikrobiologi Akuatik. Bogor: Institut Pertanian Bogor.

MIKROBIOLOGI_PENGARUH SUHU DAN SALINITAS TERHADAP VIABILITAS BAKTERI


Laporan Praktikum ke-8                       Hari/ Tanggal     : Kamis/10 November 2011
m.k. Mikrobiologi Akuatik                    Kelompok/ Shift : 7/ 2
                                                            Asisten               : 1. Damayanti
                                                                                         2. Ghita Ryan Septiani









PENGARUH SUHU DAN SALINITAS TERHADAP VIABILITAS BAKTERI

Disusun oleh:
Dian Novita Sari
J3H110045



TEKNOLOGI PRODUKSI DAN MANAJEMEN PERIKANAN BUDIDAYA
DIREKTORAT DIPLOMA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2011

I.  PENDAHULUAN
I.I        Latar belakang
            Bakteri merupakan mikro uniseluler. Pada umumnya bakteri tidak mempunyai klorofil. Ada beberapa yang fotosintetik dan reproduksi aseksualnya secara pembelahan. Bakteri tersebar luas di alam, di dalam tanah, di atmosfer, di dalam endapan-endapan lumpur, di dalam lumpur laut, dalam air, pada sumber air panas, di daerah antartika, dalam tubuh manusia, hewan, dan tanaman. Jumlah bakteri tergantung pada keadaan sekitar. Misalnya, jumlah bakteri di dalam tanah tergantung jenis dan tingkat kesuburan tanah (Hidayat, et al., 2006).
Menurut Waluyo (2007), pengamatan bakteri dapat dilakukan secara individual, satu per satu, maupun secara kelompok dalam bentuk koloni. Bila bakteri yang ditumbuhkan di dalam medium yang tidak cair, maka akan terjadi suatu kelompok yang dinamakan koloni. Bentuk koloni berbeda-beda untuk setiap spesies, dan bentuk tersebut merupakan ciri khas bagi suatu spesies tertentu.
Aktivitas mikroorganisme dipengaruhi oleh lingkungan. Perubahan yang terjadi di dalam lingkungan dapat mengakibatkan perubahan sifat morfologi dan fisiologi mikroorganisme. Beberapa golongan sangat tahan terhadap perubahan lingkungan, sehingga cepat dapat menyesuaikan diri dengan kondisi baru. Ada pula golongan mikroorganisme yang sama sekali peka terhadap perubahan lingkungan sehingga tidak dapat menyesuaikan diri. Faktor lingkungan penting artinya dalam usaha mengendalikan kegiatan mikroorganisme, baik untuk kepentingan proses ataupun pengendalian (Suriawiria 2008).
Faktor-faktor lingkungan dapat dibedakan menjadi dua kelompok yaitu faktor abiotik yang meliputi faktor kimia dan fisika dan faktor biotik yang berhubungan dengan jasad hidup lain. Faktor abiotik yang bersifat kimia antara lain pH, oksigen, ammonia, dan lain-lain, sedangkan yang bersifat fisika adalah temperatur atau panas, tekanan osmosa, pengeringan, penyinaran, dan lain-lain (Widanarni 2011).
Pada umumnya, batas temperatur bagi kehidupan mikroorganisme terletak antara 00C hingga 900C, sehingga untuk masing-masing mikroorganisme dikenal nilai temperatur minimum, optimum, dan maksimum. Berdasarkan aktivitas temperatur, mikroorganisme dibagi menjadi tiga golongan, yaitu Psikrofil, Mesofil dan Thermofil.  (Suriawiria 2008).
Kehidupan jasad renik juga dipengaruhi oleh tekanan osmosa. Tekanan osmosa substrat dapat dibedakan menjadi 3 macam yaitu hipotonis, isotonis, dan hipertonis (Widanarni 2011)
.
1.2 Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah mengetahui pengaruh suhu dan salinitas terhadap viabilitas bakteri serta mengetahui suhu dan salinitas optimum bagi pertumbuhan bakteri.


II.  METODE KERJA

2.1       Waktu dan Tempat
            Praktikum dilaksanakan pada hari Kamis, 03 November 2011, pukul 13.30-15.10 WIB, bertempat di Laboratorium CA BIO 2 dan pengamatan pada hari Jum’at, 04 November 2011, pukul 13.30-14.00 WIB, bertempat di Laboratorium Mikro, Cilibende, Institut Pertanian Bogor.

2.2       Alat dan Bahan
            Alat yang digunakan adalah 7 buah cawan petri, jarum inokulasi (ose), korek api, bunsen, sprayer, dan tisu. Bahan yang digunakan adalah sampel bakteri Aeromonas hydrophila dan Bacillus sp., alkohol 70% dan media PCA suhu 00C, suhu ruang, 370C, dan 700C serta media PCA salinitas 0%, 1,5%, 3%, dan 10%.

2.3       Prosedur Kerja
2.3.1    Pengenceran
Semua alat dan bahan disiapkan. Tangan operator dan meja kerja disterilkan dengan Alkohol 70% lalu dilap dengan tisu. Setiap cawan petri yang berisi media PCA steril dibagi menjadi dua sektor yaitu A dan B. Sektor A untuk bakteri Aeromonas hydrophila dan sektor B untuk bakteri Bacillus sp.. Kemudian bunsen dinyalakan dan ose dipijarkan dan didinginkan. Bakteri Aeromonas hydrophila diambil dengan ose lalu sekeliling cawan petri yang berisi media PCA steril untuk suhu 00C dan salinitas 0% dipanaskan. Setelah itu, bakteri pada ose digoreskan pada sektor A lalu cawan petri ditutup dan sekelilingnya dipanaskan. setelah itu ose dipijarkan lagi dan didinginkan. Kemudian bakteri Bacillus sp. diambil dengan menggunakan ose lalu sekeliling cawan petri dipanaskan dan dibuka. Setelah itu, bakteri pada ose digoreskan ke sektor B pada cawan petri. Untuk suhu ruang, 370C, 700C, dan salinitas 1,5%, 3% dan 10% prosedurnya sama dengan prosedur suhu 00C dan salinitas 0%. Selanjutnya, media yang berisi bakteri disimpan selama ±24 jam pada suhu ruang, 40C, 370C, dan 700C untuk diteliti.

III.  HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1       Hasil
Tabel 1. Hasil pengamatan perlakuan suhu.
No.         suspensi

Suhu
00C               270C               370C                  700C
1          Aeromonas hydrophila                 -                   ++                   +++                     +
2          Bacillus sp.                                   -                   ++                   +++                   +++  

Tabel 2. Hasil pengamatan perlakuan salinitas
No.         suspensi

Salinitas
0%               1,5%               3%                  10%
1        Aeromonas hydrophila                    ++                ++                   +                      -
2       Bacillus sp.                                       ++                 +                    ++                    -  
Ket:
+++     = tumbuh sangat banyak.
++        = tumbuh banyak.
+          = tumbuh sedikit.
-           = tidak tumbuh.

3.2       Pembahasan 
Bacillus merupakan bakteri Gram positif berbentuk batang, yang tersebar secara luas di berbagai negara (Hilman 2007). Bakteri Bacillus sp. termasuk dalam marga Bacillus, yang bersifat aerob, tetapi beberapa spesies bersifat anaerob fakultatif. Aeromonas hydrophila merupakan bakteri bersifat Gram negatif, berbentuk batang, dan motil. Merupakan agensia penyebab hemoragik septikemia atau MAS ( Motile Aeromonas Seticemia) pada beragam spesies ikan air tawar (Waluyo 2007). Mikroba golongan psikrofil/ karyofil (oligotermik) merupakan mikroba yang dapat tumbuh pada 00C-300C, dengan temperatur optimum 10-150C. Kebanyakan golongan ini tumbuh di tempat-tempat dingin, baik di daratan maupun di lautan. Mikroba golongan mesofil (mesotermik) adalah golongan mikroba yang dapat hidup dengan baik pada temperatur 5-600C dengan temperatur optimum 25-400C, umumnya hidup dalam alat pencernaan. Mikroba golongan termofil (politermik) adalah golongan mikroba yang tumbuh pada temperatur 40-800C dengan temperatur optimum 55-650C. golongan ini terutama terdapat di sumber-sumber air dan tempat-tempat lain yang bertemperatur tinggi (Waluyo 2007).
Berdasarkan hasil pengamatan diperoleh hasil bahwa bakteri Aeromonas hydrophila tidak tumbuh pada suhu 00C, tumbuh banyak pada suhu 270C, tumbuh sangat banyak pada suhu 370C, dan tumbuh sedikit pada suhu700C. Pada suhu 370C, jumlah koloni bakteri sangat banyak karena terjadi kontaminasi, tetapi pada goresan yang dibuat tumbuh koloni bakteri yang penuh dari awal hingga akhir goresan. Sedangkan bakteri Bacillus sp. tumbuh banyak pada suhu 270C, tumbuh sangat banyak pada suhu 370C dan 700C. Bakteri Bacillus sp. juga tidak tumbuh pada suhu 00C, sama halnya dengan bakteri Aeromonas hydrophila. Hal ini menunjukkan bahwa bakteri Aeromonas hydrophila termasuk dalam bakteri golongan mesofil dan bakteri Bacillus sp. termasuk dalam bakteri termofil. Kabata (1985) dalam Sari, et al. (2009) menyatakan bahwa Aeromonas hydrophila merupakan bakteri mesofilik dengan suhu optimum 20-300C. Pada tahun 1967 dan 1969 di Yellowstone Park ditemukan bakteri Thermus aquaticus, Bacillus caldoyticus dan Bacillus caldotenax tergolong dalam bakteri sangat termofil yakni hidup suhu 93-940C (Waluyo 2007). Sifat pertumbuhan Bacillus sp. terjadi pada dua galur, yaitu galur psikotrofik (tumbuh pada suhu 4-50C) dan galur mesofilik yang dapat tumbuh pada kisaran suhu 15-500C, sedangkan suhu optimumnya adalah berkisar pada 30-400C (Sari, et al. 2009).
Dalam lingkungan isotonik, konsetrasi cairan lingkungan setara dengan cairan sel mikroorganisme. Dalam lingkungan ini, cairan dalam sel tidak mengalir keluar, demikian pula cairan dari lingkungan tidak masuk ke dalam sel. Dalam keadaan lingkungan hipertonik, konsentrasi cairan lingkungan lebih tinggi dibandingkan di dalam sel miroorganisme. Perbedaan konsentrasi tersebut menyebabkan cairan dalam sel mikroorganisme mengalir keluar, sehingga mengakibatkan dehidrasi dan pengketutan sel mikroorganisme yang disebut plasmolisis. Dalam keadaan lingkungan hipotonik, konsentrasi cairan lebih rendah dibandingkan di dalam sel mikroorganisme. Perbedaan konsentrasi tersebut menyebabkan cairan dari lingkungan mengalir ke dalam sel mikroorganisme. Cairan yang masuk ke dalam sel mikroorganisme menyebabkan sel membengkak. Bila cairan yang masuk terlampau banyak, sel mikroorganisme akan pecah (plasmoptisis). Sel mikroorganisme dapat membengkak tanpa menjadi pecah, namun sel mikroorganisme dengan dinding sel yang tidak kuat misalnya bakteri Gram negatif dapat pecah disebabkan masuknya cairan ke dalam sel (Waluyo 2007).
Dari hasil pengamatan diperoleh hasil bahwa bakteri Aeromonas hydrophila tumbuh banyak pada salinitas 0% dan 1,5 %, tumbuh sedikit pada salinitas 3%, dan tidak tumbuh pada salinitas 10%. Hal ini menunjukkan bahwa bakteri Aeromonas hydrophila  hidup dan tumbuh optimum pada salinitas 0-1,5% , masih toleran pada salinitas 3% dan tergolong dalam bakteri hipotonis karena tidak mampu tumbuh pada media salinitas tinggi. Menurut Anonim (2003), pertumbuhan optimal bagi bakteri Aeromonas hydrophila adalah pada media yang memiliki kisaran salinitas antara 0-4%, dan pada salinitas 5% bakteri ini sudah tidak mampu mengalami pertumbuhan. Sedangkan bakteri Bacillus sp. tumbuh banyak pada salinitas 0% dan 3%, tumbuh sedikit pada salinitas 1,5 % dan tidak tumbuh pada salinitas 10%. Pada media salinitas 1,5 %, bakteri Bacillus sp. mengalami pertumbuhan yang sedikit akibat media yang digunakan rusak akibat ketidakhati-hatian operator dalam menggoreskan sampel bakteri, sehingga goresan bakteri tidak merata di permukaan media. Pada praktikum kali ini, media salinitas 1,5% yang digunakan memiliki tekstur yang lebih cair dibandingkan dengan media lainnya, sehingga media tersebut lebih mudah rusak. Berdasarkan penjelasan Dr. Dinamella Wahjuningrum, hal ini disebabkan karena proses pembuatan media salinitas 1,5% kurang tepat. Dalam membuat media, misal ingin membuat media dengan pelarut sebanyak 100mL, maka pelarut tersebut dibagi dua, masing-masing 50 mL. Tiap-tiap pelarut tersebut digunakan untuk melarutkan bahan media dan garam pada tempat yang berbeda, setelah larutan selesai dibuat, kedua larutan tersebut digabungkan lagi sehingga menjadi media yang mengandung pelarut sebanyak 100 mL. Dalam penelitian Dr. Dinamella Wahjuningrum, beliau menggunakan media dengan salinitas yang berbeda dan konsentrasi garam (salinitas) dalam tiap-tiap media tersebut tidak mempengaruhi bentuk dan tekstur media yang digunakan. Pada penelitian tersebut, beliau membuat media dari salintas rendah hingga ekstrim halodurik dan semua media tersebut tetap memiliki bentuk dan tekstur sama, yang berbeda hanya kandungan garamnya saja (salinitas)1.
Pada salinitas 10%, bakteri Aeromonas hydrophila  dan Bacillus sp. tidak tumbuh, hal ini menunjukkan bahwa pada salinitas tersebut terdapat perbedaan zat terlarut yang besar antara zat terlarut dalam sel bakteri dengan zat terlarut di luar sel bateri sehingga substratnya tidak sama yang menyebabkan terjadinya plasmolisis atau plasmoptisis.

1)    Hasil diskusi dengan Dr. Dinamella Wahjuningrum. Selasa, 08 November 2011.

IV.  KESIMPULAN DAN SARAN
4.1  Kesimpulan
            Hasil praktikum menunjukkan bahwa faktor suhu dan salinitas mempengaruhi pertumbuhan bakteri. Pada suhu dan salinitas diluar batas toleransinya, maka bakteri tidak akan mengalami pertumbuhan dengan baik, bahkan tidak mengalami pertumbuhan dan menyebabkan kematian. Bakteri Aeromonas hydrophila dan Bacillus sp. tumbuh pada media bersuhu 27-700C dan pada media salinitas 0% - 3%. Bakteri Aeromonas hydrophila tumbuh optimum pada suhu 370C dan salinitas 0 - 1,5%. Sedangkan bakteri Bacillus sp. tumbuh optimum pada suhu 37-700C dan pada salinitas 0% dan 3%.
4.2 Saran
Untuk praktikum berikutnya diharapkan agar bakteri yang dijadikan sampel lebih beragam, khususnya beberapa bakteri yang menyebabkan penyakit dan kematian yang tinggi pada organisme budidaya. Pada praktikum berikutnya juga diharapkan agar media yang digunakan memiliki suhu yang lebih dari 700C dan salinitas lebih dari 10%. Hal ini dilakukan agar suhu dan salinitas yang lethal bagi bakteri dapat diketahui dengan jelas karena pada temperatur/ salinitas yang sedikit dibawah temperatur/ salinitas minimum atau sedikit di atas temperatur/ salinitas maksimum tidak segera mematikan bakteri, tetapi hanya mendormansikan (menidurkan) bakteri.

DAFTAR PUSTAKA
  1. Anonim. 2003. Pengaruh pH, suhu, dan konsentrasi garam pada pertumbuhan Aeromonas hydrophila. http://www.geocities.com. [24 Februari 2011].
  2. Hidayat, Nur. Masdiana C. Padaga, Sri Suhartini. 2006. Mikrobiologi Industri. Yogyakarta: Andi Offset.
  3. Hilman, Anton. 2007. Pestisida hayati dengan bakteri Bacillus Thuringiensis. http://www.hilman.web.id.
  4. Sari, Nurlita Annisa, Ririn Nurul Fauziah, dan Ai Tety Nurbaety. 2009. Pengaruh suhu dan salinitas terhadap viabilitas bakteri Aeromonas hydrophila dan Bacillus sp. [Karya Ilmiah]. Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
  5. Suriawiria, Unus. 2008. Mikrobiologi Air dan Dasar-Dasar Pengolahan Buangan Secara Biologis. Bandung: PT. alumni.
  6. Waluyo, Lud. 2007. Mikrobiolgi Umum. Malang: UMM Press.
  7. Widanarni. 2011. Modul Praktikum Mikrobiologi Akuatik. Bogor: Institut Pertanian Bogor.