search

Memuat...

Senin, 25 Juni 2012

MIKROBIOLOGI_PENGARUH BAHAN ANTIMIKROBA TERHADAP VIABILITAS BAKTERI

Laporan Praktikum ke-9                       Hari/ Tanggal     : Kamis/17 November 2011
m.k. Mikrobiologi Akuatik                    Kelompok/ Shift : 7/ 2
                                                            Asisten               : 1. Damayanti
                                                                                        2. Ghita Ryan Septiani





PENGARUH BAHAN ANTIMIKROBA TERHADAP VIABILITAS BAKTERI

Disusun oleh:
Dian Novita Sari
J3H110045


 


TEKNOLOGI PRODUKSI DAN MANAJEMEN PERIKANAN BUDIDAYA
DIREKTORAT DIPLOMA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2011

I.  PENDAHULUAN
I.I  Latar belakang
            Bakteri merupakan mikro uniseluler. Pada umumnya bakteri tidak mempunyai klorofil. Ada beberapa yang fotosintetik dan reproduksi aseksualnya secara pembelahan. Bakteri tersebar luas di alam, di dalam tanah, di atmosfer, di dalam endapan-endapan lumpur, di dalam lumpur laut, dalam air, pada sumber air panas, di daerah antartika, dalam tubuh manusia, hewan, dan tanaman. Jumlah bakteri tergantung pada keadaan sekitar. Misalnya, jumlah bakteri di dalam tanah tergantung jenis dan tingkat kesuburan tanah (Hidayat, et al., 2006).
Menurut Waluyo (2007), pengamatan bakteri dapat dilakukan secara individual, satu per satu, maupun secara kelompok dalam bentuk koloni. Bila bakteri yang ditumbuhkan di dalam medium yang tidak cair, maka akan terjadi suatu kelompok yang dinamakan koloni. Bentuk koloni berbeda-beda untuk setiap spesies, dan bentuk tersebut merupakan ciri khas bagi suatu spesies tertentu.
Aktivitas mikroorganisme dipengaruhi oleh lingkungan. Perubahan yang terjadi di dalam lingkungan dapat mengakibatkan perubahan sifat morfologi dan fisiologi mikroorganisme. Beberapa golongan sangat tahan terhadap perubahan lingkungan, sehingga cepat dapat menyesuaikan diri dengan kondisi baru. Ada pula golongan mikroorganisme yang sama sekali peka terhadap perubahan lingkungan sehingga tidak dapat menyesuaikan diri. Faktor lingkungan penting artinya dalam usaha mengendalikan kegiatan mikroorganisme, baik untuk kepentingan proses ataupun pengendalian (Suriawiria 2008).
Beberapa bahan kimia seperti senyawa fenol, alkohol, formalin, dan lain-lain diketahui dapat menghambat atau mematikan mikroorganisme. Berbagai substansi tersebut menunjukkan efek antimikrobialnya dalam berbagai cara dan terhadap berbagai mikrorganisme. Sifat ini digunakan untuk mengendalikan populasi bakteri atau untuk tujuan desinfeksi suatu alat. Antibiotik merupakan produk metabolit yang dihasilkan suatu mikroorganisme tertentu, yang dalam jumlah amat kecil bersifat merusak atau menghambat mikroorganisme lain. Dengan perkataan lain, antibiotik merupakan zat kimia yang dihasilkan oleh suatu mikroorganisme yang menghambat mikroorganisme lain. Cara kerja zat-zat kimia dalam menghambat atau mematikan mikroorganisme itu berbeda-beda, beberapa diantaranya adalah mendenaturasi protein, merusak membran, mengganggu sintesis protein, menghambat pembentukan dinding sel, dan lain-lain (Widanarni 2011).
1.2 Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah mengetahui pengaruh bahan kimia terhadap viabilitas bakteri serta mengetahui bahan kimia yang efektif dalam mengatasi pertumbuhan bakteri.
II.  METODE KERJA

2.1 Waktu dan Tempat
      Praktikum dilaksanakan pada hari Kamis, 10 November 2011, pukul 13.30-15.10 WIB, bertempat di Laboratorium CA BIO 2 dan pengamatan pada hari Jum’at, 11 November 2011, pukul 13.30-14.00 WIB, bertempat di Laboratorium Mikro, Cilibende, Institut Pertanian Bogor.

2.2 Alat dan Bahan
        Alat yang digunakan adalah 2 buah cawan petri, batang penyebar, korek api, bunsen, sprayer, mikropipet, tip, dan tisu. Bahan yang digunakan adalah sampel bakteri Aeromonas hydrophila dan Bacillus sp., alkohol 70%, formalin 10%, larutan fisiologis 0,85%, ekstrak meniran, larutan penicilin dan media PCA.

2.3 Prosedur Kerja
2.3.1    Penyebaran
Semua alat dan bahan disiapkan. Tangan operator dan meja kerja disterilkan dengan Alkohol 70% lalu dilap dengan tisu. Bunsen dinyalakan, tip dipasang ke mikro pipet dan volume sampel yang akan diambil yaitu 0,1 mL diatur pada mikro pipet. Selanjutnya sampel bakteri Aeromonas sp. pada oppendorf diambil dengan mikro pipet sebanyak 0,1 mL dengan cara menekan tombol ujung mikro pipet, tetapi tidak sampai full. Kemudian sekeliling tepi cawan petri yang berisi media PCA steril dipanaskan dan dibuka. Selanjutnya sampel bakteri pada mikro pipet dipindahkan ke cawan petri yang berisi media dengan cara menekan tombol pada ujung mikro pipet hingga full kemudian cawan petri ditutup dan sekelilingnya dipanaskan lagi. Setelah itu, batang penyebar dipanaskan dan bakteri pada cawan petri yang berisi sampel bakteri disebar dengan batang penyebar hingga merata. Kemudian cawan petri ditutup dan sekelilingnya dipanaskan lagi. Pada penyebaran bakteri Bacillus sp., prosedurnya sama dengan penyebaran bakteri Aeromonas hydrophila. Selanjutnya media yang berisi sampel bakteri disimpan selama ± 24 jam untuk diteliti dan dihitung.

III.             HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1       Hasil
Tabel 1. Hasil pengamatan pengaruh bahan antimikroba terhadap viabilitas bakteri. 
No.         Bahan aktif

                                  Diameter zona bening
      Aeromonas sp.      Zona bening        Bacillus sp.      Zona 
                                                                                   bening
1              Formalin 10%                        -                                          2,8 cm                  
2              Alkohol 70%                      0,85 cm                                   0,75 cm                 
3              Penisillin                             2 cm                                       2,1 cm                     
4              Meniran                             1,3 cm                                     0,9 cm                     
5              Larutan fisiologis 0,85%      1 cm                                           -                         x
Ket:
√ = ada zona bening.
X= tidak ada zona bening.
- = tidak ada zona bening/ ada zona bening tetapi diameternya tidak diketahui.

3.2 Pembahasan 
Bacillus merupakan bakteri Gram positif berbentuk batang, yang tersebar secara luas di berbagai negara (Hilman 2007). Bakteri Bacillus sp. termasuk dalam marga Bacillus, yang bersifat aerob, tetapi beberapa spesies bersifat anaerob fakultatif. Aeromonas hydrophila merupakan bakteri bersifat Gram negatif, berbentuk batang, dan motil. Merupakan agensia penyebab hemoragik septikemia atau MAS ( Motile Aeromonas Seticemia) pada beragam spesies ikan air tawar (Waluyo 2007).
Formalin merupakan suatu larutan formaldehid 40% yang merupakan desinfektan yang banyak sekali digunakan untuk membunuh bakteri, virus, dan jamur. Formalin tidak biasa digunakan untuk jaringan tubuh manusia, kecuali untuk menyimpan kadaver. Formalin banyak dipergunakan untuk merendam bahan-bahan laboratorium, alat-alat seperti gunting, sisir, dan lain-lainnya pada para ahli kecantikan (Waluyo 2007). Dari hasil pengamatan diperoleh hasil bahwa bahan antimikroba yang memiliki zona bening terluas adalah formalin 70% baik itu pada bakteri Aeromonas hydriphila maupun Bacillus sp.. Luas zona bening formalin pada A. hydrophila tidak dapat diukur karena zona yang terbentuk terlalu besar dan keluar dari diagram untuk zona formalin sehingga zona beningnya terpotong oleh tepian cawan yang berbentuk lingkaran.
Penisilin merupakan antibiotika yang dihasilkan oleh jamur Penicillium  yang ditemukan oleh A. Fleming pada tahun 1929. Penisilin bekerja dengan mempengaruhi dinding sel bakteri. Mekanisme kerja penisilin menggangu pembentukan dinding sel terutama pada tahap terakhir. Penggunaan penisilin ini dapat menyebabkan terbentuknya sferoplas, yakni bakteri tanpa dinding sel atau bakteri bentuk L (Waluyo 2007). Berdasarkan hasil pengamatan zona bening terluas setelah formalin adalah penisilin. Luas zona bening penisilin lebih besar pada bakteri Bacillus sp. dibandingkan dengan bakteri A. hydrophila. Hal ini menunjukkan bahwa bakteri A. hydrophila lebih tahan terhadap antibiotik penisilin dibandingkan dengan bakteri Bacillus sp. A. hydrophila lebih tahan terhadap penisilin karena antimikroba tersebut merupakan antimikroba pertama yang ditemukan sehingga sering digunakan untuk mengobati penyakit yang disebabkan oleh A. hydrophila yang menyebabkan bakteri tersebut menjadi lebih resisten terhadap penisilin.
Meniran merupakan bahan fitofarmaka yang dapat digunakan dalam berbagai hal yaitu sebagai penurun  kadar gula, anti bakteri, diuretik, anti diare (Kardinan A, Kusuma FR 2007). Meniran herbal banyak mengandung bahan kimia seperti lignan yang terdiri dari phylanthine, hypophyllanthin, phyltetralin, lintretalin, nirathin, nitretalin, nirphylline, nirurin, dan nirurisida. Terpen terdiri dari cymene, limonene, lupeol, dan lupeol acetat. Flavonoid terdiri dari quercitrin, isoquercitrin, astragalin, rutine, dan physetinglucosida. Falvonoid pada meniran banyak ditemukan pada bagian akar dan daun ( Suprapto 2006 dalam Ayuningtyas 2008). Lipid terdiri dari ricinoleic acid, dotriancontanoic acid, linoleic acid, dan linolenic acid. Benzenoid berupa methylsalicilat. Dari kelompok alkaloid ditemukan securinine, norsecurinine dan phylanthoside. Sedangkan dari kelompok steroid ditemukan senyawa estradiol dan sitosterol (Kardinan A, Kusuma FR 2007). Kandungan flavonoid yang terdapat pada meniran berfungsi sebagai antibakteri dan antioksidan serta mampu meningkatkan kerja sistem imun karena leukosit sebagai pemakan antigen lebih cepat dihasilkan dan sistem lifoid lebih cepat. Kandungan alkaloid pada meniran bersifat toksik terhadap mikroba, sehingga efektif membunuh bakteri dan virus. Alkaloid berfungsi sebagai antibakteri  yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri gram positif dan bakteri gram negatif (Naim 2004 dalam Sholikhah 2009). Saponin yang terdapat dalam meniran juga bertindak sebagai antibakteri karena memiliki kemampuan dalam menghambat fungsi membran sel sehingga merusak permeabilitas membran yang mengakibatkan dinding sel rusak atau hancur. Berdasarkan hasil pengamatan, ekstrak meniran memiliki zona bening yang cukup luas. Zona bening ekstrak meniran terhadap A. hydrophila lebih besar dibandingkan pada bakteri Bacillus sp.. Hal ini menunjukkan bahwa bakteri Bacillus sp. lebih tahan terhadap antibiotik yang berasal dari ekstrak meniran karena bakteri Bacillus sp merupakan bakteri gram positif yang memiliki dinding sel yang banyak mengandung peptidoglikan sehingga bahan aktif saponin dalam ekstrak meniran tidak terlalu mampu untuk merusak permeabilitas membran dinding sel bakteri tersebut. Luas zona bening antara bakteri A. hydrophila dan Bacillus sp. Tidak terlalu berbeda jauh, hal ini disebabkan karena spektrum meniran yang luas akibat kandungan alkaloid dalam meniran yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri Gram positif dan negatif.
Alkohol merupakan zat yang paling efektif dan dapat diandalkan untuk sterilisasi dan disinfeksi. Alkohol mendenaturasi protein dengan jalan dehidrasi, dan juga merupakan pelarut lemak. Oleh karena itu, membran sel-sel akan rusak, dan enzim-enzim akan diinaktifkan oleh alkohol. Alkohol 50-70% banyak digunakan sebagai disinfektan. Ada 3 jenis alkohol yang dipergunakan sebagai desinfektan adalah metanol (CH3OH), etanol (CH­3CH2OH), dan isopropanol ((CH3)2CHOH). Menurut ketentuan, semakin tinggi berat molekulnya, semakin meningkat pula daya desinfektannya. Konsentrasi di atas 90% atau di bawah 50% biasanya kurang efektif kecuali untuk isopropyl alkohol yang masih tetap efektif sampai konsentrasi 99%. Waktu yang diperlukan untuk membunuh sel-sel vegetatif cukup 10 menit, tetapi untuk spora tidak (Waluyo 2007). Berdasarkan hasil pengamatan menunjukkan bahwa luas zona bening alkohol 70% lebih luas pada bakteri A. hydrophila dibandingkan pada bakteri Bacillus sp.. Hal ini menunjukkan bahwa alkohol 70% lebih efektif digunakan pada bakteri A. hydrophila  dibandingkan pada bakteri Bacillus sp. karena bakteri A. hydrophila   merupakan bakteri Gram negatif yang memiliki dinding sel yang banyak mengandung lipid sehingga menjadi tercuci saat diberi alcohol yang menyebabkan dinding sel bakteri menjadi rusak dan pertumbuhannya menjadi terhambat.
Larutan fisiologis merupakan larutan isotonik yang terbuat dari NaCl 0.9% yang sama dengan cairan tubuh atau darah (Adil, 2009). Pada praktikum kali ini larutan fisiologis digunakan sebagai kontrol karena mengandung unsur elektrolit yang dapat mempertahankan tekanan osmotik dan isotonis media dengan cairan intrasel bakteri sehingga tidak akan mempengaruhi viabilitas bakteri. Pada hasil pengamatan diperoleh hasil bahwa larutan fisiologis memiliki zona bening pada media yang disebar dengan bakteri A. hydrophila sedangkan pada bakteri Bacillus sp. tidak menghasilkan zona bening. Seharusnya larutan fisiologis tidak menghasilkan zona bening karena larutan fisiologis tidak memiliki efek antimikroba tetapi berfungsi sebagai penyeimbang tekanan osmotik bagi bakteri. Zona bening yang dihasilkan disebabkan karena kesalahan prosedur yang dilakukan oleh praktikan. Kesalahan tersebut terjadi saat praktikan meletakkan kertas cakram yang telah dicelupkan ke larutan fisiologis ke media. Hal ini juga disebabkan oleh banyaknya kandungan larutan fisiologis yang terserap pada kertas cakram sehingga saat diletakkan ke media, larutan fisiologis pada kertas cakram meluber di sekitar kertas cakram.
IV.       KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
            Hasil praktikum menujukkan bahwa zona bening terluas disebabkan oleh formalin 10%. Hal ini menunjukkan bahwa dari beberapa bahan antimikroba yang digunakan, formalin 10% merupakan bahan aktif yang paling mempengaruhi viabilitas bakteri dan formalin 10% juga merupakan bahan antimikroba yang terbaik untuk digunakan dalam mengatasi bakteri. Selain formalin 10%, Penisilin, meniran dan alkohol 70% pun bisa digunakan sebagai antimikroba tetapi efeknya tidak sebagus formalin 10%.
4.2 Saran
Untuk praktikum berikutnya diharapkan agar bahan aktif dan bakteri yang digunakan lebih bervariasi lagi sehingga praktikan bisa memiliki bahan perbandingan dalam menganalisa pengaruh bahan antimikroba terhadap viabilitas bakteri.

DAFTAR PUSTAKA
  1. Adil. 2009. Darah dan sistem resirkulasi. Laboratorium Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Institut Pertanian Bogor.
  2. Ayuningtyas A. K. 2009. Efektifitas campuran meniran (Phyllanthus niruri) dan bawang putih (Alium sativum) untuk pengendalian infeksi bakteri Aeromonas hydrophila pada ikan lele dumbo (Clarias sp.). [Skripsi]. Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
  3. Hidayat, Nur. Masdiana C. Padaga, Sri Suhartini. 2006. Mikrobiologi Industri. Yogyakarta: Andi Offset.
  4. Hilman, Anton. 2007. Pestisida hayati dengan bakteri Bacillus Thuringiensis. http://www.hilman.web.id.
  5. Kardinan A, Kusuma FR. 2007. Meniran Penambah Daya Tahan Tubuh Alami. Yogyakarta: Kanisius.
  6. Sholikhah E.H. 2009. Efektivitas campuran meniran (Phyllanthus niruri) dan bawang putih (Alium sativum) dalam pakan untuk pengendalian infeksi bakteri (Aeromonas hydrophila) pada ikan lele dumbo (Clarias sp.). [Skripsi]. Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
  7. Waluyo, Lud. 2007. Mikrobiolgi Umum. Malang: UMM Press.
  8. Widanarni. 2011. Modul Praktikum Mikrobiologi Akuatik. Bogor: Institut Pertanian Bogor.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar