search

Memuat...

Selasa, 10 Januari 2012

TEKNIK PEMINDAHAN BIAKAN MIKROBA SECARA ASEPTIK, laporan mikrobiologi


Laporan ke-2                            Hari/ Tanggal        : Kamis/ 22 September 2011
m.k. Mikrobiologi Akuatik       Kelompok/ Shift   : 7/ 2
                                                Asisten                  : 1. Damayanti
                                                                                2. Ghita Ryan Septiani









TEKNIK PEMINDAHAN BIAKAN MIKROBA
SECARA ASEPTIK
Disusun oleh:
Dian Novita Sari
J3H110045




TEKNOLOGI PRODUKSI DAN MANAJEMEN PERIKANAN BUDIDAYA
DIREKTORAT DIPLOMA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2011

I.                   PENDAHULUAN
I.I        Latar belakang
            Bakteri merupakan mikro uniseluler. Pada umumnya bakteri tidak mempunyai klorofil. Ada beberapa yang fotosintetik dan reproduksi aseksualnya secara pembelahan. Bakteri tersebar luas di alam, di dalam tanah, di atmosfer, di dalam endapan-endapan lumpur, di dalam lumpur laut, dalam air, pada sumber air panas, di daerah antartika, dalam tubuh manusia, hewan, dan tanaman. Jumlah bakteri tergantung pada keadaan sekitar. Misalnya, jumlah bakteri di dalam tanah tergantung jenis dan tingkat kesuburan tanah (Hidayat, Padaga, dan Suhartini 2006).
            Sifat hidup bakteri secara umum adalah sapotrofik pada sisa buangan hewan ataupun tanaman yang sudah mati, tetapi banyak juga parasitik pada hewan, manusia, dan tanaman dengan menyebabkan banyak penyakit (Suriawiria 2008).
            Praktikum ini perlu dilakukan agar praktikan terbiasa bekerja aseptik, terutama saat praktikum tentang bakteri maupun mikroba lainnya. Dengan terbiasa bekerja dengan teknik aseptik, praktikan bisa menghindari kontaminasi dalam praktikum sehingga praktikum yang dilakukan berhasil dan tidak menyebabkan efek  bagi praktikan, misalnya infeksi oleh bakteri.
Steril artinya tidak didapatkan mikroba yang tidak diharapkan kehadirannya, baik yang mengganggu atau merusak media maupun mengganggu kehidupan dan proses yang sedang dikerjakan. Semua proses baik fisika, kimia, dan mekanik yang membunuh semua bentuk kehidupan, terutama mikroorganisme disebut dengan sterilisasi (Waluyo 2007).
Sterilisasi dapat dilakukan dengan berbagai cara diantaranya dengan uap air panas bertekanan, alat yang digunakan disebut autoklaf (Autoclave). Untuk steriliasasi, alat ini dilengkapi dengan katup pengaman. Alat diisi dengan air kemudian bahan dimasukkan. Panaskan sampai mendidih dan dari katup pengaman keluar uap air dengan lancar lalu ditutup. Suhu akan naik sampai 1210C dan biarkan selama 15 menit (untuk industri pengalengan ada perhitungan tersendiri), lalu biarkan dingin sampai tekanan normal dan klep pengaman dibuka. Cara ini akan mematikan spora dengan cara penetrasi panas ke dalam sel atau spora sehingga lebih cepat. (Machmud 2008).
1.2       Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah menguasai teknik pemindahan biakan murni dari suatu wadah ke wadah yang lain secara aseptik.
 
II.                METODE KERJA
2.1       Waktu dan Tempat
            Praktikum dilaksanakan pada hari Kamis, 15 September 2011, pukul 13.30-15.10 WIB, bertempat di Laboratorium CA BIO 2, Cilibende, Institut Pertanian Bogor.
2.2       Alat dan Bahan
            Alat yang digunakan adalah erlenmeyer, cawan petri, 2 buah tabung ulir kecil, 1 buah tabung ulir besar, bunsen, hot plate, aluminium foil, rak tabung, mikro pipet, tip, tisu, karet, neraca analitik, pipet mohr, bulb, pengaduk, sprayer dan lup (ose).
            Bahan yang digunakan adalah NA bubuk, Yeast ekstrack 0,4 gr, Glycerol 1,2 mL, Bakto pepton 2 gr, air laut 160 mL, biakan murni E. choli, alkohol, dan akuades 250 mL.
2.3       Prosedur Kerja
2.3.1    Pembuatan Media (NA dan SWC)
a. NA
Semua alat dan bahan yang telah disterilkan sebelumnya disiapkan, bubuk NA ditimbang seberat 4,2 gr di neraca analitik. Setelah itu, disiapkan akuades sebanyak 150 mL, kemudian bubuk NA yang telah ditimbang dimasukkan ke tabung erlenmeyer dan ditambahkan akuades 150 mL tersebut. Setelah itu, larutan NA dipanaskan di atas hot plate sambil diaduk hingga mendidih dan homogen. Setelah mendidih, larutan didinginkan sebentar lalu ditutup dengan aluminium foil dan diikat dengan karet agar tutupnya rapat, kemudian dimasukkan ke Autoclave untuk disterilkan.
            b. SWC
            Semua alat dan bahan disiapkan. Semua bahan ditimbang sesuai dengan takaran yang digunakan dalam membuat SWC 250 mL. Kemudian semua bahan yang telah ditimbang dimasukkan ke Erlenmeyer dan ditambahkan 160 mL air laut dan 100 mL akuades. Setelah itu diaduk rata dan dipanaskan di atas hot plate. Setelah mendidih, erlenmeyer yang berisi larutan SWC diangkat dan didinginkan beberapa saat lalu ditutup dengan aluminum foil. Kemudian dimasukkan ke Autoclave untuk disterilisasi.

2.3.2    Pemindahan SWC
Semua alat dan bahan disiapkan. Tangan praktikan dan meja dibersihkan dengan alkohol 70% kemudian di lap dengan tisu. Setelah itu, 2 buah tabung ulir kecil yang berisi SWC steril dipegang di tangan kiri dan lup dipegang ditangan kanan. Kemuadian mikro pipet diset sesuai dengan volume yang diinginkan,lalu tip yang sudah disterilkan dipasangkan ke mikro pipet. Setelah itu, tabung larutan SWC 1 dibuka lalu didekatkan ke bunsen dan larutan SWC diambil dengan mikro pipet dengan cara menekan tombol di ujung mikro pipet (tidak sampai full). Kemudian tabung mulut larutan SWC 1 didekatkan lagi ke bunsen dan ditutup. Setelah itu tabung larutan SWC 2 dibuka dan di dekatkan ke bunsen, lalu larutan SWC 1 yang di mikro pipet dimasukkan ke tabung larutan SWC 2 dengan menekan tombol di ujung mikro pipet sampai full. Setelah itu, mulut tabung larutan SWC 2 didekatkan lagi ke bunsen dan ditutup. Tip pada mikro pipet dilepas dengan menekan tombol di dekat ujung mikro pipet. Kemudian tabung larutan SWC 1 dan 2 dimasukkan ke kantong plastik dan di simpan selama ±24 jam. Keesokan harinya diteliti apakah terjadi kontaminasi atau tidak.
2.3.3 Pemindahan Biakan (Agar Miring dan Cawan Petri)
A. Cawan Petri          
Semua alat dan bahan disiapkan. Tangan dan meja tempat kerja dibersih dengan alkohol dan dilap dengan tisu. Kemudian bunsen dinyalakan. Media agar yang telah dicairkan dipindahkan ke cawan petri dengan cara tangan kanan memegang media agar dan  kiri memegang cawan petri. Kemudian seluruh pinggiran cawan dan tempat media agar dipanaskan dan dibuka dengan hati-hati dan media agar dituang ke cawan petri. Setelah itu, cawan petri yang berisi media agar didinginkan pada suhu ruang hingga agar membeku. Setelah media agar di cawan petri membeku, ose (lup) dipegang di tangan kanan dan erlenmeyer tempat biakan murni E. coli ditangan kiri. Setelah itu, ose dipanaskan hingga membara, lalu didinginkan sebentar. Kemudian, mulut erlenmeyer tempat biakan murni E. coli dipanaskan di bunsen. Lalu ose dicelupkan kebiakan murni dan  mulut erlenmeyer tempat biakan murni E. coli dipanaskan lagi dan ditutup rapat. Lalu tangan kiri memegang cawan petri dan tangan kanan memegang ose (lup). Setelah itu, pinggiran cawan petri yang berisi agar dipanaskan di bunsen. Setelah itu, cawan petri dibuka dengan hati-hati dan ose digoreskan ke permukaan media agar di dalam cawan petri secara zigzag, semua proses pelaksanaan dilakukan didekat api (bunsen). Setelah itu ose dan pinggiran cawan dipanaskan lagi, lalu cawan petri dimasukkan ke plastik dan disimpan selama ±24 jam dan keesokan harinya diteliti apakah terjadi kontaminasi atau tidak.
B. Media Agar Miring
Semua alat dan bahan disiapkan. Kemudian bunsen dinyalakan. Media agar yang telah dicairkan dipindahkan ke tabung ulir besar dengan cara mengambil media agar yang sudah dicairkan sebanyak 5mL dengan menggunakan pipet Mohr dan bulb lalu dipindahkan ke tabung ulir besar. Setelah itu, tabung ulir  yang berisi media agar didinginkan pada suhu ruang dengan posisi dimiringkan hingga agar membeku. Setelah media agar di tabung membeku, tangan dan meja tempat kerja dibersih dengan alkohol dan dilap dengan tisu. Ose (lup) dipegang di tangan kanan dan erlenmeyer tempat biakan murni E. coli ditangan kiri. Setelah itu, ose dipanaskan hingga membara, lalu didinginkan sebentar. Kemudian, mulut erlenmeyer tempat biakan murni E. coli dipanaskan di bunsen. Lalu ose dicelupkan kebiakan murni dan  mulut erlenmeyer tempat biakan murni E. coli dipanaskan lagi dan ditutup rapat. Tangan kiri memegang tabung ulir dan tangan kanan memegang ose (lup). Setelah itu, tutup tabung ulir yang berisi media agar dibuka dan mulut tabung dipanaskan di bunsen. Lalu, Kemudian, ose digoreskan ke permukaan media agar di dalam tabung ulir secara zigzag, semua proses pelaksanaan dilakukan didekat api (bunsen). Setelah itu ose dan mulut tabung dipanaskan lagi, lalu tabung ulir ditutup dan dimasukkan ke kantong plastik. Kemudian disimpan selama ±24 jam dan keesokan harinya diteliti apakah terjadi kontaminasi atau tidak.

III.             HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1       Hasil
Tabel 1. Pemindahan Sea Water Complete (SWC)
     No.           Sampel                Kontaminan                                  Keterangan
1.                Dian                            +                                                keruh
2.                Elsa                             +                                                keruh
3.                Arthur                         +                                                keruh
Keterangan :   +    : Ada kontaminan
                      -          : Tidak ada kontaminan.
Tabel 2. Pemindahan Biakan Murni Escherichia coli pada Nutrient Agar (NA)
No.    Media                Sampel                Kontaminan                  Keterangan
1.         Cawan petri        Dian                      +                              putih susu
2.                                    Elsa                      +                              putih susu
3.                                    Arthur                   +                              putih susu
4.          Agar miring        Dian                      +                              putih susu
5.                                    Elsa                       +                              putih susu
6.                                    Arthur                    +                              putih susu
Keterangan :   +    : Tumbuh bakteri Escherichia coli
-          : Tidak tumbuh bakteri Escherichia coli 

3.2       Pembahasan
   Teknik aseptik sangat diperlukan untuk menghindarkan mikroorganisme dari kontaminan yang dapat menghambat pertumbuhan mikroba. Teknik aseptis digunakan sepanjang kegiatan berlangsung, baik alat, bahan, lingkungan sekitar maupun praktikannya. Untuk alat dan bahan praktikum dapat diterapkan metode sterilitas. Penguasaan teknik aseptik ini sangat diperlukan dalam keberhasilan laboratorium mikrobiologi dan hal tersebut merupakan salah satu metode permulaan yang dipelajari oleh ahli mikrobiologi  (Oram 2001).
Sementara itu, menurut Pelczar & Chan (2007) teknik aseptis sangat penting dalam pengerjaan mikrobiologi yang memerlukan ketelitian dan keakuratan disamping kesterilan yang harus selalu dijaga agar terbebas dari kontaminan yang dapat mencemari. Populasi mikroba di alam sekitar kita sangat besar dan komplek. Beratus-ratus spesies berbagai mikroba biasanya menghuni bermacam-macam bagian tubuh kita, termasuk mulut, saluran pencernaan, dan kulit. Sekali bersin terdapat beribu-ribu mikroorganisme.
Media pertumbuhan mikroorganisme adalah suatu bahan yang terdiri dari campuran zat-zat makanan (nutrisi) yang diperlukan mikroorganisme untuk pertumbuhannya. Mikroorganisme memanfaatkan nutrisi media berupa molekul-molekul kecil yang dirakit untuk menyusun komponen sel. Dengan media pertumbuhan dapat dilakukan isolat mikroorganisme menjadi kultur murni dan juga memanipulasi komposisi media pertumbuhannya (Machmud 2008).
Nutrient Agar (NA) merupakan media yang digunakan untuk menumbuhkan bakteri, media ini dipanaskan agar mencair, kemudian sedikit didinginkan sehingga suhunya kira-kira 40-50°C, pendinginan ini dilakukan untuk mendapatkan suhu yang ideal sehingga agar tidak mengeras namun tidak terlalu panas yang mengakibatkan kematian koloni yang akan dibiakkan. Kegunaan dari Nutrient Agar adalah untuk kultivasi dan perawatan sebagian besar dari mikroorganisme. Komposisi dari Nutrient Agar adalah agar sebanyak 15 gram, pepton sebanyak 5 gram, NaCl sebanyak 5 gram, ekstrak yeast sebanyak 2 gram dan ekstrak kaldu sebanyak 1 gram (Atlas 1946). Pada praktikum yang dilakukan, meskipun agar sudah didiamkan selama beberapa waktu, agar tetap tidak membeku secara sempurna, hal ini disebabkan karena pada saat pembuatan media Nutrient Agar, larutan Nutrient Agar belum homogen secara sempurna. Sehingga masih ada akuades yang belum tercampur dengan pertikel-pertikel Nutrient Agar.
   Sea Water Complete (SWC) merupakan media yang digunakan untuk menumbuhkan bakteri, khususnya bakteri air laut. Komposisi dari SWC yang dibuat pada praktikum kemarin adala yeast ekstrack 0,4 gr, glycerol 1,2 mL, bakto pepton 2 gr, air laut 160 mL, dan aquades 100mL.
Golongan bakteri Coli, merupakan jasad di dalam substrat air, bahan makanan, dan sebagainya yang menjadi indikator untuk kehadiran jasad berbahaya, yang mempunyai persamaan sifat. Escherichia sebagai salah satu contoh yang terkenal mempunyai beberapa spesies hidup di dalam saluran pencernaan makanan manusia dan hewan berdarah panas. Escherichia coli mula-mula diisolasi oleh Escherich (1885) dari tinja bayi (Suriawiria 2008).
          Bakteri Coli dalam jumlah tertentu di dalam air, dapat digunakan sebagai indikator adanya jasad patogen. Jika di dalam 100 mL air minum terdapat 500 bakteri Coli, memungkinkan terjadinya penyakit gastroenteritis yang segera diikuti oleh demam tifus. Escherichia coli pada keadaan tertentu dapat mengalahkan mekanisme pertahanan tubuh sehingga dapat tinggal di dalam biader (cystitis), pelvis (ginjal), dan hati, yang dapat menyebabkan diare, peritonistis, meningitis, dan infeksi-infeksi lainnya (Suriawiria 2008).       

 IV.             KESIMPULAN DAN SARAN
4.1       Kesimpulan
            Teknik aseptik dalam proses-proses pengerjaan yang berkaitan dengan  mikrobiologi, memerlukan ketelitian dan keakuratan serta kesterilan yang harus selalu dijaga agar terbebas dari kontaminan. Penguasaan teknik aseptik sangat diperlukan dalam keberhasilan praktikum mikrobiologi dan hal tersebut merupakan salah satu metode permulaan yang harus dipelajari oleh seorang ahli mikrobiologi.  Bakteri E. coli bisa mengganggu kesehatan jika dikultur secara tidak aseptik, karena praktikan bisa terinfeksi. Kontaminasi pada media NA dan SWC dapat dilihat dengan melihat warna media, yaitu putih susu pada NA dan keruh pada SWC.
4.2       Saran
Hendaknya para praktikan sangat berhati-hati dalam melakukan pemindahan biakan agar tidak terjadi kontaminasi. Selain itu, para praktikan diharapkan mengurangi percakapan dan lebih baik memakai masker saat bekerja agar bisa meminimalisir terjadinya kontaminasi, yang nantinya dapat mengganggu kesehatan praktikan dan mengurangi keberhasilan praktikum.

DAFTAR PUSTAKA
  1. Hidayat, Nur. Masdiana C. Padaga, Sri Suhartini. 2006. Mikrobiologi Industri. Yogyakarta: Andi Offset.
  2. Atlas,R.M.1946.Handbook Of Microbiological Media 3th Edition.CRC Press: Amerika.
  3. Machmud, M. 2008. Teknik Penyimpanan dan Pemeliharaan Mikroba. Balai Penelitian Bioteknologi Tanaman Pangan, Bogor. http://anekaplanta.wordpress.com/2008 /03/02/teknik-penyimpanan-dan-pemeliharaan-mikroba/. Diakses pada tanggal 8 April 2010.
  4. Oram, R.F. S., Paul. J. Hummer, Jr. 2001. Biology Living System. Glencoe Division Mc Millan Company. Waterville.
  5. Pelczar, M. J., Chan, E.C.S. 2007. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Volume 1. Hadioetomo RS et al., penerjemah: Jakarta: UI Press. Terjemahan dari: Elements of Microbiology.
  6. Suriawiria, Unus. 2008. Mikrobiologi Air. Bandung: PT. Alumni.
  7. Waluyo, Lud. 2007. Mikrobiologi Umum. Malang: UPT. Penerbit Universitas Malang.

1 komentar: